Thursday, March 8, 2018

You Are My Sunshine

Kisah nyata ini terjadi di Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua.

Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya.

Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!

*Mami, … aku mau nyanyi buat adik kecil!*
Ibunya kurang tanggap.

*Mami, … aku pengen nyanyi!* Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.

*Mami, … aku kepengen nyanyi!*   Ini berulang kali diminta

Michael *bahkan sambil meraung menangis* Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup!

Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: *Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi!* *Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!*

Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring:

“… *You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …”*

Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

*You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away*

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, … terus Michael! teruskan sayang! … bisik ibunya …
*The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands* … dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang.

Pernapasannya lalu menjadi teratur…

*I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same* … Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang.

Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai … lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang.

Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah *therapy ajaib*, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai *Mujizat Kasih Ilahi* yang luar biasa, *sungguh amat luar biasa!* tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, *kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati*. Benar bahwa memang *Kasih Ilahi yang menolongnya*. Dan ingat *Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”*

Dan ternyata *Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan*. Itulah kehendak Tuhan, *tidak ada yang mustahil bagiNYA* bila IA menghendaki terjadi.

Living Wonderful,
Tim Athanasios

Meneruskan Apa yang Anda Miliki

Kisah nyata,...

KIsah Ban Mobil Kempes.

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan.

Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat, bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala, ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan.

Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, "Saya disini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja, supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson."

Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut usia seperti dia, kejadian itu cukup buruk.

Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu.. Namun, akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu.

Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum, ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu.

Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar, sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapa pun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan dan melakukan karma baik, banyak orang telah ditolong dirinya pada waktu yang lalu.

Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya, bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya."

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman, ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah.

Restoran itu nampak agak kotor. Diluar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah.

Pelayan itu tersenyum manis, meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari.

Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran.

Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya.
Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu.

Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung, kemana perginya wanita itu.
Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata, ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu:

"Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya.. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan.

Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.

Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja.

Malam itu, ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang.

Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan?

Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan,

"Segalanya akan beres.
Aku mengasihimu, Bryan Anderson!"

Living Wonderful,
Timothy Athanasios

Tuesday, November 14, 2017

Pelajaran dari Meja Belajar

Suatu hari Leia bilang:
"Pa, aku butuh meja belajar"
ITU NAMANYA DOA

Saya menjawab:
"Nanti kita cari waktu untuk beli ya, Lei"
ITU NAMANYA PENUNDAAN

"Gimana kalo sekarang aja kita belinya?"
tanyanya penuh harap.
ITU NAMANYA BERDOA DENGAN TIDAK PUTUS ASA

Saya tersenyum,
"Kalo sekarang, kan kamu juga belum mandi."
jawab saya sambil berharap ia akan melupakan masalah meja belajar itu.
ITU NAMANYA PENUNDAAN LEBIH LAMA LAGI

Ia lalu berjalan ke kamar mandi, terdengar suara air dan aktifitas di kamar mandi, dan tidak lama setelahnya keluar dengan baju pergi, menyisir rambut, mamakai bando, lalu berkata:
"Aku udah mandi, ayo kita pergi beli meja belajar!"
ITU NAMANYA IMAN

Melihat hal itu, mau tidak mau saya berganti baju, lalu pergi bersamanya untuk membeli meja belajar.
ITU NAMANYA TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

Sepanjang jalan, ia berceloteh tentang meja belajar seperti apa yang ia inginkan:
"... warna pink dengan gambar kuda pony... twilight sparkle, rainbow dash, rarity, ..."
hanya itu saja bagian yang saya dengarkan dari rentetan ceritanya.
ITU NAMANYA PENGHARAPAN

Sesampainya di toko, kami menemukan bahwa ternyata ukuran meja belajarnya agak sedikit terlalu besar untuk dimuat ke dalam mobil kami yang penuh dengan barang. Saya berkata kepada Leia:
"Lei, kayaknya gak muat loh untuk dibawa pakai mobil. soalnya mobil kan banyak barang."
ITU NAMANYA PENUNDAAN LAGI

Ia tertegun sejenak, lalu meminta kunci mobil kepada saya, dan berlari secepat yang ia bisa menuju ke arah mobil meninggalkan saya dengan penjual meja belajar tersebut.....
Tidak lama kemudian ia kembali dan berkata:
"Pa, barang-barang di mobil udah kuberesin, sekarang pasti muat." katanya sambil terengah-engah dengan selintas senyum di bibirnya.
ITU NAMANYA USAHA DAN PEKERJAAN BAIK

Penjual Meja lalu berkata:
"Meja model ini tidak ada yang ready stock, pak. Ini hanya barang display. Yang ada meja yang belum di cat."
ITU NAMANYA PENUNDAAN YANG DAPAT MEMBUAT PUTUS ASA

Leia memandang saya dan berkata:
"Pa, aku yang cat sendiri aja. kan hari ini libur, kita beli catnya dan aku yang akan cat sendiri. gak bagus juga gak apa-apa kok."
ITU NAMANYA TEKAD HATI
Melihat kesungguhannya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli meja belajar itu, beberapa kaleng cat kayu dan kuasnya sekalian, saya ingin lihat apakah ia benar-benar akan mengecat meja belajar tersebut.
ITU NAMANYA JAWABAN DOA

Sesampainya di rumah, kami menurunkan meja belajar tersebut di pekarangan. Ia lalu mendorong saya masuk ke dalam rumah agar saya tidak mengganggunya bekerja. lalu mulailah ia berkreasi.
ITU NAMANYA MENEPATI JANJI

setelah beberapa jam, ia memanggil saya dan memperlihatkan meja belajar yang cemong di sana-sini, dengan cat yang tidak rata dan tempelan stiker kuda poni, yang menurutnya menjadikan meja belajar itu lebih cantik daripada sebelumnya. Leia bukan Cezanne ataupun Warhol, guratan kuas di sekeliling meja belajar itu tidak bisa dikatakan indah, namun justru saya tertegun melihat satu kalimat yang dicoretkannya di sisi kanan atas meja belajar tersebut yang berbunyi:
"I Love You, Pa"
ITU NAMANYA KASIH
ITU NAMANYA PENYEMBAHAN





Living Wonderful

Timothy Athanasios

Thursday, November 9, 2017

Positive Attitude

Hal apa saja yang bisa dilakukan oleh POSITIVE ATTITUDE?

Hari ini ada cukup banyak orang yang merusak pandangan umum tentang POSITIVE ATTITUDE. Mereka mengatakan bahwa dengan semangat Gung-Ho, Jia You, Candor, atau apapun namanya, setiap orang dapat melakukan apapun yang mereka inginkan.

Apapun!

Well, kalau dipikir dengan akal sehat, pernyataan itu tentu saja tidak sepenuhnya benar.

Saya adalah orang yang sangat positif, namun saya pikir sampai dengan hari ini, saya belum bisa melakukan slam dunk ataupun melakukan operasi jantung terhadap seseorang dan berharap orang itu untuk terus hidup setelah saya selasai mengutak-atik jantungnya.

Saya pikir, Yao Ming, pemain basket legendaris asal Cina, yang memiliki tinggi 7 kaki, 6 inci itu, tidak akan sukses jika ia memilih untuk menjadi seorang joki kuda pacu ataupun penari balet, kan?

You got my point?

POSITIVE ATTITUDE tidak akan membuat Anda bisa melakukan segala hal,
namun POSITIVE ATTITUDE akan membuat Anda melakukan "semua hal yang Anda bisa" dengan lebih baik, dibandingkan jika Anda menunjukkan NEGATIVE ATTITUDE Anda.

POSITIVE ATTITUDE membuat Anda dapat mengeluarkan kemampuan terbaik Anda dalam melakukan "semua hal yang Anda bisa".

Sebagaimana halnya ketika Anda masuk ke ruangan gelap dan menekan saklar, lalu lampu menyala dan ruangan yang gelap menjadi terang.

Menekan saklarnya tentunya tidak menjadikan ruangan terang, namun menekan saklar memampukan alur listrik disalurkan untuk mengeluarkan energi cahaya yang memberikan terang.

Demikianlah POSITIVE ATTITUDE mengeluarkan kemampuan Anda untuk dialirkan dengan baik dalam semua hal yang Anda bisa.

Ambillah juga sebagai contoh, seorang siswa yang tidak belajar sebelum ulangan, tidak akan dapat mengerjakan ulangannya dengan hanya sekedar POSITIVE ATTITUDE. Namun POSITIVE ATTITUDE akan membantu siswa yang sudah belajar untuk mengeluarkan kemampuannya menjawab hal-hal yang ditanyakan di kertas ujian.

Pengetahuan melahirkan kepercayaan diri,
kepercayaan diri melahirkan antusiasme,
dan antusiasme adalah kunci untuk melakukan hal yang LEBIH dalam hidup Anda.

So, biarkan POSITIVE ATTITUDE itu mengalir dan membuat Anda mampu mengerjakan "semua hal yang Anda bisa" dengan lebih baik.

Living Wonderful,
Timothy Athanasios

Thursday, October 19, 2017

Hal-hal Kecil


Cindy adalah seorang wanita cantik setengah baya yang baru saja pulang ke rumah setelah menjalani serangkaian operasi pada tulang belakangnya. Selama masa pemulihan, Cindy mengalami kesulitan untuk bergerak ke kiri atau kanan, membungkuk, ataupun berjongkok. Namun demikian, ia tetap berusaha untuk mengerjakan tugas-tugasnya sebagai ibu rumah tangga sebaik mungkin.

Jack, suaminya, memahami keterbatasan isterinya selama masa pemulihan itu berlangsung. 

Pada suatu pagi, Jack bangun lebih dulu dan pergi ke dapur untuk membuat kopi. Ia melihat bahwa cangkir favoritnya sudah dicuci bersih di dalam tempat cuci piring bersama dengan beberapa piring dan mangkuk lainnya.

Mengingat bahwa isterinya sedang dalam masa pemulihan, Jack berinisiatif untuk memindahkan piring dan mangkuk itu dari tempat cuci piring ke lemari penyimpanannya.
Hal itu memakan waktu tidak sampai 5 menit untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Setelah ia menghabiskan kopinya, ia kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk berangkat kerja, sebelum isterinya bangun.

"Kasihan dia...", pikir Jack.

Ia mengecup kening Cindy yang masih tertidur pulas, menyelimutinya, menutup pintu dengan perlahan, lalu berangkat ke kantor.

Ketika Jack kembali ke rumah pada sore harinya, Cindy memberinya sebuah pelukan hangat sebagai ungkapan rasa terima kasih untuk apa yang telah dilakukannya.

Cindy berkata: "Sayang, aku sangat terharu ketika menyadari bahwa aku tidak perlu  membungkuk untuk mengangkat semua piring dan mangkuk itu."

Jack tidak mampu berkata-kata, ia hanya memeluk Cindy erat sebagai bentuk rasa sayang dan kepeduliannya akan kesehatan dan kenyamanan isterinya yang sedang dalam pemulihan.

Hal itu bukanlah hal yang monumental, namun cukup untuk membuktikan bahwa "hal-hal kecil" memang memberikan perbedaan besar dalam kehidupan seseorang.

Jika Anda dapat menyempatkan waktu Anda 5 menit saja untuk melakukan hal-hal kecil yang berarti bagi orang yang Anda kasihi, maka percayalah bahwa hal itu pasti akan membuat perbedaan-perbedaan besar yang pasti membuat kehidupan menjadi lebih indah untuk dijalani.

Pesannya sederhana: Cobalah untuk lebih peka akan kebutuhan orang lain dan ingatlah selalu akan "hal-hal kecil" dalam kehidupan, karena biasanya hal-hal itulah yang membuat perbedaan besar.


Living Wonderful,
Timothy Athanasios

You Are My Sunshine

Kisah nyata ini terjadi di Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaiman...